Penyuntingan Naskah dan Meramu Kisah
Penulis: Indarpati Harsono
Usai membaca puisi yang kukirim di milist, salah seorang yang rupanya ‘berfrekuensi’ sama denganku mengirimkan komentarnya, japri. Di emailnya itu, selain memberi penilaian yang sempat membesarkan kepalaku, dia juga basa-basi minta diajari merangkai kata-kata supaya enak dibaca. Namun kalimat terakhir dari emailnya, seolah langsung membuat tameng jika aku benar ingin menyarankan sesuatu.
Dia mengaku kalau tak suka baca. Itu masalahnya. Sebab, jika berbagi pengalaman proses penulisan, hal pertama yang biasanya kuceritakan adalah membaca. Membaca dan menulis, bagaikan dua saudara kembar yang sangat sulit bahkan nyaris tak bisa dipisahkan.
Berbicara tentang membaca, ada dua buku di minggu ini yang amat kunikmati. Misalkan makanan, mungkin dia sekelas bebek goreng yang sangat kuidamkan waktu hamil dulu.
Buku pertama berjudul Buku Pintar Penyuntingan Naskah oleh Pamusuk Eneste terbitan GPU (2005). Ini adalah edisi kedua. Edisi pertama diterbitkan oleh Penerbit Obor (1995). Sedang buku kedua berjudul Konflik, Aksi, dan Ketegangan: Meramu Kisah Dramatis Menuju Klimaks dalam Cerita oleh William Noble. Buku ini dialihbahasakan dan diterbitkan oleh MLC (2006) dari judul aslinya Conflict, Action, and Suspense (Writer’s Digest Books, Ohio, 1999).
Kedua buku ini, memiliki sebuah kesamaan yang tajam, sekaligus perbedaan yang tak terelakkan. Persamaannya, warna sampulnya yang biru. Perbedaannya, satu berbicara sebagai ‘tukang jagal’ naskah, sedang satunya berdiri sebagai pencipta naskah.
Tidak bermaksud meresensi (karena masih jauh dari kaidah meresensi buku) jika di bawah ini kutulis apa saja yang dapat kuceritakan dari kedua buku tersebut.
Buku Pintar Penyuntingan Naskah, oleh Pamusuk Eneste.
Bambang Trim—yang membidani lahirnya FEI (Forum Editor Indonesia)–dalam tulisannya berjudul Copyediting yang Baik dan Benar yang saya baca di blog Danielcmahendra mengungkapkan fakta bahwa di Amerika 80% editor yang diteliti tidak langsung memiliki keinginan untuk menjadi editor.
Seperti di Indonesia juga, kebanyakan berdasarkan ketidaksengajaan.Mereka lahir melalui proses autodidak. Dan hanya sedikit lembaga yang khusus mencetak tenaga editor profesional.
Bagi yang banyak tersebut, lahirnya buku ini merupakan sebuah anugrah. Atau semacam mata kuliah yang siap disesap kapan saja, dengan sang dosen–Pamusuk Eneste–selalu bersedia membagi ilmunya.
Beberapa kali berkesempatan menyunting, aku merasa buku ini mampu menghapus keraguan yang tak kudapat jawabannya di buku tentang EYD. Ya, menyunting sebuah tulisan, memang tak terbatas soal EYD saja. Seperti isi bab 6 yang juga berbicara tentang kebenaran fakta, legalitas, dan sebagainya.
Kelebihan buku ini, kalau boleh mengambil persamaan dengan buku Kunci Sukses Menulis Skenario milik Elizabeth Lutters (Grasindo, 2004) cukup informatif. Bab-bab awal, buku menerangkan tentang hal-hal umum semisal beda editor dengan copyeditor dan sebagainya. Pembicaraan lalu mengerucut hingga kode etik sebagai editor serta ragam-ragam naskah.
Yang membuat buku ini semakin terasa nikmat adalah latihan di bagian akhir buku yang kalau tak jeli cukup bikin kepala berdenyut. Seperti mengalami déjà vu saat kuliah dulu dengan dosen bahasa Indonesia saja.
Kalau ada hal-hal yang saya sayangkan dan rasa kurang sebagai pembaca sekaligus editor-baru-belajar adalah jawaban atas contoh-contoh soalnya. Misal ada kunci jawaban seperti kumpulan soal-soal ujian, pasti lebih asyik. Jadi bisa menilai kemampuan diri sesungguhnya.
Juga, tak seperti buku Elizabeth yang memberi clue bagaimana menawarkan naskah bagi yang tak punya akses ke PH, buku ini tak memberi pencerahan bagaimana seorang editor pemula (otodidak pula!) menjual dirinya. Namun dengan semakin bergairahnya dunia perbukuan dan penerbitan, ditunjang keterbukaan informasi (baca: internet) hal itu tak menjadi sesuatu yang vital.
Tentang proses mengenal buku ini sendiri, ada ceritanya. Aku mendapat rekomendasi dari seorang penulis sekaligus editor plus tukang otak-atik software komputer yang sangat baik hati dan tidak sombong serta senang menolong. Dialah Rinurbad si Ratu Sms (gelar yang diberikan Nursalam ) yang tak pernah pelit membagi ilmu dan informasi apa saja, termasuk tentang Muse yang berteriak kencang. Thanks ya Sist!
Juga, bisa sampai dengan mulus ke tanganku berkat kerja keras dari soulmate tercinta yang rela pulang malam demi mencarikanku buku ini. Maklum, agak tak mudah mendapatkannya. Apalagi toko buku kedua tempat si buku akhirnya ditemukan sedang rada kacau lantaran direnovasi. Untungnya, semua itu terbayar dengan ilmu yang amat sangat bermanfaat sekali (sengaja menyalahi ilmu penyuntingan nih ) yang kudapat dari buku ini.
Oya, meskipun buku ini awalnya ditulis untuk mata kuliah Penyuntingan Materi dan Bahasa, dan sepertinya dibuat hanya bagi kepentingan penyuntingan (hal xii), saya pikir tak ada salahnya seorang penulis menikmati buku ini. Setidaknya, agar kerja penyunting naskah yang memplinceti (Jw, menguliti satu persatu) dari segi kebahasaan (disebut juga mechanical editing) tak terlalu berat.
Nah, tentang buku kedua, karangan William Noble, di tulisan terpisah saja ya…Terlalu panjang bisa-bisa malah bikin mual.
sumber : penulislepas.com



