Nama Pena, Penting atau Tidak?

Assalamu’alaikum, Pak Jonru. Sebenarnya mana yang bagus, memakai nama pena atau nama asli? Karena terus terang nama asli saya kurang pas (menurut saya) untuk tulisan, jadi saya berinisiatif menggunakan nama pena “Annora Hara”. Sebenarnya urgensi nama pena apa ya Pak? Karena banyak saya lihat penulis terkenal menggunakan nama pena. Terus terang saya ingin menggunakan nama asli saja; Evyta Andriani Ritonga. Tapi beberapa kali saya coba kirim karya, masuk ke koran lokal kota. Cuma atas saran teman saya seorang penulis, dia sarankan saya pakai nama pena saja. Bagaimana menurut Pak Jonru?

Pengirim: Evy (24 tahun, Wirausahawati, Medan)

====================
JAWABAN JONRU
====================

Waalaikumsalam,

Evy yang baik…
Sebelum menjawab pertanyaannya, saya coba tanya dulu pada Anda, ya…

Bagaimana bila ada seorang penulis menerbitkan teenlit atau metropop, lalu di bukunya itu dia memakai nama “Habiburrahman El Shirazy?”

Atau, bagaimana bila ada seorang penulis menerbitkan buku berjudul “Mukjizat Shalat Subuh”, lalu di bukunya itu dia memakai nama “Antonius Joko Sihombing”?

Saya yakin, Evy akan menjawab, “Nama penulisnya tidak cocok dengan jenis buku yang ia tulis.” Benar, kan?

Nah, itu adalah gunanya nama pena.

Dunia penerbitan buku dan media massa adalah dunia industri. Pada industri manapun, terdapat “logika-logika” tertentu yang mungkin tidak sejalan dengan logika sehari-hari. Sebuah buku dengen genre agama Islam misalnya, akan lebih diterima oleh masyarakat bila nama penulisnya “berbau Arab”. Sebuah teenlit akan lebih laris bila nama penulisnya berbau remaja, ceria, dan lebih baik lagi bila “agak berbau Barat” seperti “Angeline Rahmawati” dan sebagainya.

Secara logika sehari-hari, penjelasan saya ini mungkin terdengar aneh. Tapi dalam konteks logika industri, hal-hal seperti itulah yang selama ini dianut.

Biasanya, nama pena sangat dipengaruhi oleh genre dari tulisan yang kita buat. Di atas saya sudah menyebutkan contohnya. Jadi bisa saja, seorang penulis yang nama aslinya Joko susilo, akan menggunakan nama pena:

  • Joko Susilo, SH (lengkap dengan gelarnya) bila dia menulis sebuah artikel ilmiah mengenai hukum.
  • Zoky Sust bila dia menulis teenlit
  • Abu Hanifah (kebetulan nama anaknya Hanifah, dan “abu” dalam bahasa Arab berarti “ayah”) bila dia menulis buku agama Islam.

Jangan heran, yang seperti ini sering sekali dipraktekkan oleh para penulis yang menerbitkan berbagai macam buku dengan genre yang berbeda-beda.

Yang tak kalah penting, nama pena seharusnya:

  • Keren (Bila ada penulis yang nama aslinya Ngatemin, maka akan kurang asyik bila dia menggunakan nama ini di dalam tulisan-tulisannya).
  • Mudah diingat dan mudah diucapkan (Nama Gola Gong - menurut penulisnya sendiri - dulu dipilih karena - antara lain - nama ini mudah diingat dan mudah diucapkan).
  • Menarik (Dulu saya pakai nama samaran Jon Riyadi. Semua teman saya mengatakan nama ini tidak menarik. Mereka menyarankan saya menggunakan nama Jonru saja sebagai nama pena. Maka, saya mengikuti saran mereka. Sekadar info, Jonru adalah nama panggilan saya sehari-hari).

Nah, mengenai nama Evy, saya kira nama Asli Anda sudah cukup bagus. Namun nama Anda ini lebih cocok untuk membuat tulisan-tulisan jenis esai, opini, feature, resensi, atau jenis-jenis tulisan nonfiksi populer lainnya, dengan segmen pembaca dewasa. Saran saya, bila Anda memang hendak menulis jenis-jenis tulisan seperti ini, sebaiknya Anda pakai nama asli saja, tapi disingkat menjadi “Evyta A. Ritonga”. Ini akan terasa lebih keren, mudah dihafal, dan mudah diingat.

Adapun nama “Annora Hara” cocok bila Anda menulis novel dengan segmen remaja, wanita karier, atau anak-anak.

Terlepas dari hal-hal di atas, satu hal penting yang harus kita ingat: Nama pena bukanlah pembawa keberuntungan. Soal keberuntungan, itu tergantung dari kerja keras, kreativitas dan ketekunan kita, serta pertolongan Tuhan tentu saja. Pemilihan nama pena yang bagus hanyalah SALAH SATU upaya agar tulisan-tulisan kita lebih mudah untuk diterima oleh masyarakat.

Oh ya, ada pula penulis yang tidak bersedia menggunakan nama pena. Mereka lebih suka pakai nama asli saja. Contohnya adalah Leyla Imtichanah, seorang penulis novel-novel remaja Islami. Nama dia ini sebenarnya agak sulit dihafal dan kurang menarik. Tapi dia sudah menerbitkan banyak buku, dan alhamdulillah hampir semuanya laris.

Oke deh, semoga bermanfaat, ya….

Salam sukses untuk Anda!

Jonru

PENTING:

  1. Anda bisa berpartisipasi dalam Konsultasi Penulisan ini. Klik DI SINI untuk mengirim pertanyaan.
  2. Anda dipersilahkan mengomentari topik konsultasi di atas. Silahkan isi komentar di bawah ini. Namun Ingat: Jangan gunakan fitur comment di bawah ini untuk mengajukan pertanyaan konsultasi. Akan kami abaikan. Untuk berkonsultasi seputar penulisan, silahkan DI SINI.
  3. Anda ingin belajar menulis secara lebih intensif? Gabung saja di Sekolah-Menulis Online.

3 Responses to “Nama Pena, Penting atau Tidak?”

  1. ivan Says:

    semakin igin nulis terus nih setelah mendapatkan ilmu tentang pentingnya nama pena. mungkin untuk tulisan-tulisan aku akan menggunakan nama pena…..
    makasih mas jonru…….

  2. meity Says:

    kalau kita ingin tetap menggunakan nama asli (walaupun tidak selengkap yang tertulis di akte kelahiran), sah-sah saja kah?

  3. ivan Says:

    klo masalah menggunakan nama pena itu tergantung pada pribadi sipenulisnya…. dia lebih senang menggunakan nama yang mana….. klo menurut sipenulir nama aslinya sudah cukup oke kenapa tidak……

Leave a Reply