Ingin Menulis, Tapi Tak Punya Komputer
Saya ingin memulai untuk membuat suatu tulisan yang bisa dinikmati banyak orang. Kendala yang saya rasakan saat ini adalah saya tidak punya media tulis komputer atau laptop. Saya hanya bermodalkan kertas dan pulpen. Memang hal ini seharusnya tidak menjadi alasan bagi saya untuk tidak menulis. Akan tetapi jika dirasakan lagi, hal ini sangat tidak efisien karena kita harus melakukan pekerjaan dua kali; menulis di kertas dan memindahkannya ke komputer.
Apa saran Anda? Kalaupun saya harus membeli komputer, saya tidak memiliki dana yang cukup. Paling saya hanya bisa mengusahakan dana sekitar 3-jutaan, misal saya hanya membeli PC. Bagaimana? Apakah itu sudah cukup untuk dijadikan media penulisan saya?
Thanks buat jawabannya.
Pengirim: Arum (19 tahun, Mahasiswi, Bogor)
=================
JAWABAN JONRU
=================
Arum yang baik,
Saya senang sekali membaca email Anda. Saya yakin, Anda adalah seorang penulis yang sangat potensial.
Saya punya sebuah cerita untuk Anda:
Ada seorang gadis yang malu karena dia selalu diantar dengan sepeda butut ke sekolah oleh ibunya. Karena itu, dia memutuskan untuk berhenti sekolah. Mendengar keputusannya itu, ibunya berkata, “Anakku. Kalau kamu tidak sekolah, maka bila nanti sudah punya anak, kamu hanya bisa mengantar dia ke sekolah dengan sepeda butut, seperti yang ibu lakukan saat ini. Ketahuilah, Nak. Selama ini Ibu sangat bersemangat mengantar kamu ke sekolah dengan sepeda butut itu, agar nanti kamu nanti bisa mengantar anakmu ke sekolah dengan mobil yang bagus.” (Disadur dari sebuah kisah di majalah Reader Digest Indonesia).
Hm… cerita yang menarik, bukan?
Saya kira, Arum bisa memikirkan hal yang sama seperti si ibu tersebut. Bila Arum rajin menulis sejak sekarang, maka insya Allah honornya bisa ditabung dan digunakan untuk membeli komputer yang bagus. Tapi bila Arum tidak menulis hanya gara-gara belum punya komputer, lantas kapan nasib akan berubah?
Coba pikirkan pula bagaimana kisah hidup para penulis di zaman dahulu. Apakah Sultan Takdir Alisyahbana atau Buya Hamka atau A.A. Navis memiliki komputer? Tentu tidak, karena saat itu komputer belum ada. Tapi mereka berhasil menulis karya-karya yang sangat bagus.
Coba pikirkan pula bagaimana perjuangan Pramoedya Ananta Toer ketika dia harus menulis di dalam penjara dengan fasilitas yang seadanya.
Atau, Arum bisa berguru pada seorang sahabat saya bernama Rama, yang tetap rajin menulis walau dia punya banyak keterbatasan. Info selengkapnya, klik di sini.
Jadi saya kira: Daripada kita sibuk menyesali hal-hal yang tidak kita miliki, lebih baik kita bersyukur atas apa yang kita miliki. Lalu gunakan apapun yang kita miliki tersebut untuk meraih sukses, untuk menjadi manusia yang lebih baik.
Orang sukses adalah orang yang tak pernah mengeluh akan kekurangannya, tapi menyiasati kekurangannya untuk menghadirkan kekuatan yang luar biasa.
Oke deh, saya doakan semoga Arum segera dapat memiliki komputer, ya.
Salam sukses untuk Anda!
Jonru
PENTING:
- Anda bisa berpartisipasi dalam Konsultasi Penulisan ini. Klik DI SINI untuk mengirim pertanyaan.
- Anda dipersilahkan mengomentari topik konsultasi di atas. Silahkan isi komentar di bawah ini. Namun Ingat: Jangan gunakan fitur comment di bawah ini untuk mengajukan pertanyaan konsultasi. Akan kami abaikan. Untuk berkonsultasi seputar penulisan, silahkan DI SINI.
- Anda ingin belajar menulis secara lebih intensif? Gabung saja di Sekolah-Menulis Online.




August 6th, 2008 at 08:26 am
Apa yang dialami, dirasa dan dipikirkan Sdri. Arum sama persis dengan saya. Jawaban Bang Jonru sangat mencerahkan dan memotivasi. Terima kasih.
August 6th, 2008 at 08:59 am
tepat, seumur umur aye belum pernah tuh punya yang namanya pc apalagi leptop he he. tapi menulis, tetep
August 6th, 2008 at 09:16 am
dulu saya gak punya komputer apalagi laptop,
tau dimana saya menulis?
warnet.
Setiap ada ide, saya mencari warnet dan menulis, lalu hasilnya saya kirim via email ke email saya sendiri, setiap mendapat ide dan ingin melanjutkan tulisan saya, saya tinggal buka email, menulis dan menyimpannya di email saya.
Jadi, kemana saya pergi, saya selalu membawa komputer saya tempat saya menulis!
Hasilnya saya sudah punya dua buku.
August 6th, 2008 at 09:46 am
Saya memulai menulis juga dengan pulpen dan pinsil persis dengan bung nugros. Tulisan itu saya pindah ke mesin ketik listrik. Pada proses selanjutnya langsung ke mesin ketik itu. Tetapi tetap saja koleksi (puisi atau cerpen) ditulis tangan.
Sekarang saya menulis dengan komputer karena jaman berubah.
Pendapat saya untuk Arum : Tulislah dengan tangan lalu ke rental komputer dan ketik di sana. Enak malahan pergantian suasana karena ngetik dengan komputer membuat kita menjadi ‘manusia penyendiri’.
Saya kalau bepergian juga gak nenteng laptop. Ada laptop punya anak saya dan saya nggak merasa harus meminjamnya karena tidak butuh apalagi saya orangnya lupaan kalau ketinggalan gimana huhuhu ….
Jadi kalau bepergian saya bawa notes dan pen alias balik ke jaman primitif. Saya nggak ngiler kok lihat orang bawa laptop, berat lagi (bilang aja gak punya hehe ngaku). Kalau ada ide yang sewaktu-waktu datang ya coret2 aja di notes, enaak
Selamat menulis ya, Arum. Jadikan hambatan adalah motivasi anda.
Salam Manis
August 6th, 2008 at 10:02 am
[...] Ingin Menulis, Tapi Tak Punya Komputer [...]
August 6th, 2008 at 10:07 am
Saat ini saya menjadi penulis lepas di Suara Merdeka ,artikel pertama yang saya kirim 4 th lalu, saat masih 17 th dan sekolah di asrama, tentu saja di pesantren tidak ada komputer (kecuali di kantor), yang jadi halangan bukan masalah ada tidaknya komputer, tapi kapan mencari waktu untuk bisa keluar dari asrama dan pergi ke rental komputer untuk mengetikkan artikel2 saya yang sudah berlembar2 saya tulis di kertas untuk dikirim di Suara Merdeka,
Teman saya yang tukang bakso memiliki kecakapan menulis yang lebih dari saya, tapi dia tidak mendapat porsi apa2 untuk mencari honor di Suara Merdeka, karena dia tidak pernah mengirm tulisan2nya yg bagus hanya gara2 tidak memiliki komputer, sayang sekali…Bahkan Ibnul Qayim saat dipebjara dan kehabisan tinta, Beliau menulis dengan darah,..Wallahu a’laam,..
silahkan renungkan
August 6th, 2008 at 16:47 pm
satu kata: yang penting kemauan!
itu aja
thanks!
August 6th, 2008 at 17:11 pm
- saya ingin melukis tapi tidak punya kanvas dan tinta
- saya ingin menyanyi tapi tidak punya radio dan recorder
- saya ingin menjadi pendebat tapi tidak punya teman berdebat
- saya ingin menjadi pengusaha mobil tapi tidak punya mobil
- saya ingin menjadi guru tapi tidak punya murid
- saya ingin menjadi petani tapi tidak punya sawah
1001 macam alasan bisa diungkapkan untuk TIDAK mengejar mimpi hanya karena fasilitas yang tidak dimiliki. Conditional.
ingat, ada 100001 jalan menuju roma. lagipula, jangan dikira sudah punya semua fasilitas terus bisa menghasilkan karya berkualitas tinggi. fasilitas hanya pendukung. tapi yg di dalam diri itu yg pertama sungguhan.
selain berkutat dengan excuses excuses, cobalah berkutat pada penyelesaian masalahnya. di atas sudah banyak diberikan penyelesaian:
- beli komputer murah (sudah banyak sekarang)
- ngetik di warnet dan simpan di email
- dll dll
jangan menunggu dikasih langit baru bikin bintang. make ur own destiny.
August 6th, 2008 at 19:14 pm
Terima kasih buat semua masukannya. Saya akan terus menikmati dunia menulis saya meski dengan keterbatasan saya, yang sebenarnya tidak ada apa-apanya dibanding Rama.
August 7th, 2008 at 14:52 pm
ass.yaaa bener bgt saya juga kadang merasa bingung trus mohon solusinya….
_trims_
August 28th, 2008 at 16:23 pm
dalam menulis itu kan ngga harus punya laptop mas….gimana ya jaman dulu waktu komputer belum ada, apa pengarang kita patah arang. media ngga jadi jaminan mas agar cerita itu bagus apa ndak..yang penting seh isinya…
August 28th, 2008 at 16:24 pm
aku mah lebih suka nulis di tembok hehehehe
September 13th, 2008 at 15:30 pm
Arum yang baik. Mendengar Anda mengeluh tak punya komputer untuk menulis saya jadi trenyuh. Kenapa? Anda yang punya motivasi tinggi untuk menjadi penulis terhambat keinginannya gara-gara tak punya komputer. Saya kira hambatan pertama ini dulu yang harus Anda enyahkan dalam arti komputer bukan segala-galanya sebagai media kita mencurahkan pikiran, perasaan dalam karya tulis. Masih ada media lain yang asli yang bisa kita manfaatkan menulis yaitu buku tulis. Memang kedengarannya kuno. Tapi itulah kenyataannya. Sebelum lahir komputer kita dulu menulis memakai buku tulis, lalu tulisan itu kita ketik di mesin ketik portable lalu kita simpan tulisan itu atau kita kirim ke penerbit. Jadilah karangan yang kalau diterbitkan oleh penerbit kita akan mendapatkan honor dari tulisan kita. Pendek kata jangan pesimis gara-gara belum punya komputer. Berpikir positip dan tentunya di sekitar kita juga ada rental penyewaan komputer yang bisa Arum manfaatkan untuk menulis. Suatu saat buah dari ketekunan Arum akan menghasilkan panen yang baik. Selesai kuliah dapat pekerjaan yang sesuai dan hobi menulis tersalurkan. Bila sudah bekerja penghasilan tetap akan datang dengan sendirinya. Dan jangan lupa setiap Arum selesai ibadah sesuai dengan Iman dan Kepercayaan Arum, lakukan Meditasi cukup 15 menit saja. Dalam Meditasi itu lakukan self talk ke dalam alam bawah sadar Arum kata-kata positif keinginan Arum secara berulang-ulang, misalnya,” Dalam kondisi tenang dan menyenangkan ini setiap saat dalam hidupku Ya Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang, aku sehat…sehat….bebas kecemasan dan ketakutan… aku menulis…menulis dan dengan tulisanku itulah Rejeki PemberianMu datang kepadaku, Amin” begitulah salah satu self talk (afirmasi) yang perlu Arum latih dan praktekkan. Insya Allah dengan olah jiwa (meditasi) ini segala kecemasan, kegalauan karena harapan Arum untuk menulis dan belum punya komputer ini untuk sementara hapus dari ingatan alam bawah sadar Arum. Dengan sendirinya self talk yang telah Arum progam ke dalam alam bawah sadar Arum cepat atau lambat akan menghasilkan out put positip entah itu Rejeki, Kesehatan yang baik dan buah pikiran positip yang Arum sendiri akan mengetahuinya. Selamat berlatih menulis dan meditasi (olah jiwa) agar Arum menjadi optimis tidakm putus asa dan selalu baik sangka atas masalah yang ada dalam diri kita. Tuhan bersama Arum, sukses selalu.
September 27th, 2008 at 23:16 pm
sebenarnya pengen banget nulis tapi bingung mulainya dari mana karena banyak banget yang ada di pikiran saya..
October 15th, 2008 at 10:57 am
Pak Jonru saran Anda kepada sahabat Arum agar juga berguru kepada Rama sunguh anjuran yang simpatik. Bagaimana tidak? Rama, saya panggil saja Mas Rama adalah sosok pekerja keras, ulet, mau belajar ditengah keterbatasan fisik yang dia miliki namun tidak menjadikan dia minder sebagai penyandang tuna netra.
Mas Rama adalah sosok langka bahkan disebut sebagai bloger tuna netra Indonesia satu-satunya namun karyanya sudah teruji sebagai komposer pencipta ilustrasi musik film kartun Jepang di mana produser film kartun itu tidak mengetahui bahwa sang komposer ilustrasi musik film kartunnya itu adalah penyandang tuna netra warga negara Indonesia. Segala urusan pengiriman ilustrasi musik tadi dilakukan melalui internet bahkan honorpun diterima Mas Rama juga melalui internet.
Dalam keseharian pun Mas Rama jalan sendiri, misalnya pergi ke Glodog untuk belanja spare part komputer yang nantinya komputer itu dia rakit sendiri. Bahkan dia juga mengajar les komputer kepada muridnya yang notabene adalah manusia melek seperti kita. Mas Rama juga mampu mengetik dimana kecepatan mengetiknya melampaui manusia normal. Bahkan chating, kirim e mail pun dia lakukan sendiri, Pokoknya sendiri. Bahkan situs atau web bahkan blog pribadinya pun dia ciptakan dan didesign sendiri.
Figurnya sudah dimuat di media massa. Minggu malam 12 Oktober 2008 dalam tayangan live Pelangi Rumahku di TVRI Jakarta pukul 20.00 wib sosok Mas Rama kembali diulas dan dibuat feature oleh TVRI Bandung mengenai kemampuan dia sebagai ahli IT hanya dengan belajar sendiri secara otodidak. Hanya dengan kemauan kuat pantang menyerah jadilah Rama yang seperti sekarang ini. Begitu mencengangkan pemirsa televisi malam itu. Saya sendiri dan rekan sekerja yang sedang tugas live di ruang pengendali siaran pun dibuat kagum. Akankah lahir Rama yang lain? O, ya ada setelah tayangan feature Rama ini diulas pula sosok tuna netra lainya yang ahli dalam budidaya tanaman.
Kita perlu bercermin dan malu jadinya kepada Mas Rama bila kita sebagai manusia sehat, normal namun punya etos kerja yang asal-asalan. Kita perlu sekali lagi belajar dan bersahabat dengan Mas Rama.
October 30th, 2008 at 10:54 am
Salam buat semuanya.
Penulis dan penanggap yan baik, saya seorang wartawan budaya dulunya pun tidak punya latar belakang pendidikan jurnalis. Saya menjadi wartawan bukan karena melamar tetapi karena diminta pemred media saya bertugas untuk menjadi wartawan. Alasan beliau, saya telah banyak menulis artikel di beberapa media komunitas (artikel itu menjadi ijasah bagiku). Soal keterbatasan fasilitas saya kira tidak tepat menjadi alasan. Justru di saat keterbatasan itu ada etos yang berkembang.