Saya sudah beberapa kali mengisi bulletin internal kantor dengan artikel khusus tentang peternakan ayam. Bahasa yang digunakan di bulletin itu adalah bahasa baku, seperti menulis tesis atau skripsi. Kemudian saya mencoba menulis artikel untuk saya kirimkan ke redaksi majalah peternakan terkemuka. Sudah 2 kali saya kirimkan artikel saya,namun tidak juga dimuat. Ketika saya tanyakan hal itu, mereka menjawab belum pas dengan topik. Padahal tulisan saya adalah topik yang umum. Saya berfikir apa mungkin karena bahasa yang saya gunakan dalam artikel untuk majalah ini sama dengan bahasa di bulletin, yaitu bahasa baku seperti pada tesis/skripsi. Yang ingin saya konsultasikan, bagaimana membuat suatu tulisan ’serius’ yang dapat diterima oleh dunia jurnalistik (dengan bahasa yang lebih ngepop)? Terima kasih.
Pengirim: Rinie (27 tahun, Karyawati, Jakarta).
Pertanyaan senada oleh Utari (34 tahun, Pekerja Lepas, Depok) Read more »
Salam. Saya ingin menanyakan bagaimana supaya tulisan kita fokus dan tidak keluar dari jalur. Yang kedua, tulisan yang baik dan bagus itu seperti apa sih? Soalnya saya merasa bahwa tulisan yang bagus itu adalah tulisan yang menguraikan masalah panjang lebar. Tapi kata teman-teman penulis, kalau tulisan seperti itu terlalu bertele-tele dan gemuk. Menurut Jonru gimana? Terima kasih.
Pengirim: Ira (22 tahun, Mahasiswi, Ciputat)
Pertanyaan senada oleh Amri (29 tahun, Pekerja Lepas, Jayapura) Read more »
Dulu sempat 3 kali naskah (opini) saya dimuat dalam salah satu harian kota, tapi lama kelamaan kok tidak. Kira-kira kenapa ya Sir? Bagaimana caranya agar menjadi seorang penulis permanen pada sebuah media masa? Thank you, salam hangat dari Surabaya.
Pengirim: Arie (40 tahun, Surabaya) Read more »
Assalamu’alaikum, Pak Jonru. Sebenarnya mana yang bagus, memakai nama pena atau nama asli? Karena terus terang nama asli saya kurang pas (menurut saya) untuk tulisan, jadi saya berinisiatif menggunakan nama pena “Annora Hara”. Sebenarnya urgensi nama pena apa ya Pak? Karena banyak saya lihat penulis terkenal menggunakan nama pena. Terus terang saya ingin menggunakan nama asli saja; Evyta Andriani Ritonga. Tapi beberapa kali saya coba kirim karya, masuk ke koran lokal kota. Cuma atas saran teman saya seorang penulis, dia sarankan saya pakai nama pena saja. Bagaimana menurut Pak Jonru?
Pengirim: Evy (24 tahun, Wirausahawati, Medan) Read more »
Assalamu’alaikum Wr. Wb. Ada teman saya yang mudah sekali menulis/mengungkapkan apa yang dia lihat atau rasakan. Namun tidak semudah itu terjadi pada saya. Apakah yang dimiliki teman saya itu memang bakat atau kita bisa melatihnya sendiri? Kalau bisa, mohon tips yang efektif + efisien. Jazaakumullahu khairan katsiraa….
Pengirim: Sanah (17 tahun, Pelajar, Banjarmasin) Read more »
Aku mau tanya, nih. Kira-kira penerbit mana ya yang mau terima naskah novel yang dikirim via e-mail? Soalnya beberapa penerbit yang sempet aku tanya, mereka minta yang udah dicetak. Bukannya gimana ya. Tapi daripada cetak, lebih gampang dikirim via email kan? Trims atas jawabannya.
Pengirim: Vian (19 tahun, Mahasiswi, Surabaya) Read more »
Berapa jumlah halaman tulisan yang baik untuk novel dan artikel?
Pengirim: Ari (27 tahun, Mahasiswa, Makassar) Read more »
Saya ingin sekali punya penghasilan tambahan dari menulis sekaligus mengembangkan ilmu yang saya dapat pada masa kuliah dulu. Saya adalah lulusan fakultas ekonomi jurusan akuntansi. Tapi saya sama sekali belum berpengalaman dalam hal ini. Gimana cara memulai menulisnya? Thanks atas sarannya.
Pengirim: Ira (32 tahun, Wirausahawati, Bandung) Read more »
Saya mau bertanya:
- Tulisan bagaimana yang bisa dikategorikan sebagai karya tulisan yang bermutu?
- Dilihat dari segi apa tulisan itu dikatakan sebagai karya yang layak dipublikasikan?
- Apakah tulisan itu harus ada sandaran atau data-data yang mendukung suatu penulisan atau sekedar pengalaman dari penulis?
Terima kasih.
Pengirim: Fanhas (26 tahun, Mahasiswa, Bogor) Read more »
Baru-baru ini saya mengirimkan naskah saya ke beberapa penerbit. Dan saya mendapat respon dari penerbit “X” bahwa naskah saya bisa diterbitkan. Dengan syarat membayar semua biayanya 100%. Dengan pembagian hasil 40-60 (40 untuk penulis). Sedangkan promosi, distribusi, dan launching akan ditangani oleh penerbit tersebut termasuk percetakannya. Apakah hal ini biasa di kalangan penerbit? Dan apakah aman bagi saya untuk menerima tawaran ini? Terima Kasih.
Pengirim: Elyasa (24 tahun, Jakarta) Read more »