Halo Jonru,
Saya ingin bertanya gimana cara menulis nonfiksi, khususnya fiksi. Saya sangat tertarik untuk mengikuti perlombaan, tetepi saya kurang mengerti dalam membuat esai. Dan bagaimana cara kita menentukan judul untuk esai atau makalah yang bagus n menarik?
Pengirim: Azzahra Shabirah (Mahasiswa, Padang) Read more »
Dear Mas Jonru,
Setelah menerima materi-materi dari Mas Jonru, saya mencoba untuk menulis sampai selesai, karena sebelumnya tulisan saya tidak pernah selesai. Memang masih sangat sederhana. Tetapi saya berusaha untuk menyelesaikannya sesuai yang Mas Jonru ajarkan. Otak kanan dulu, baru otak kiri. Dan saya berhasil. Tetapi ketika saya ingin mengeditnya, saya bingung lagi. Apa yang mesti saya edit? Beberapa memang saya edit seperti ejaannya, atau pilihan katanya. Tapi saya merasa masih ada yang belum pas.
Sebaiknya bagaimana ya? Bagaimana cara mengetahui tulisan kita sudah bagus atau belum? Terima kasih.
Pengirim: Yani (33 tahun, Karyawati, Malang) Read more »
Saya ingin mengirimkan cerpen saya. Tapi seperti yang saya pernah dengar, katanya harus menggunakan surat pengantar dulu. Surat pengantar itu seperti apa bentuknya? Bahasanya bagaimana? Apa itu seperti surat resmi yang harus ada kepala surat segala? Terima kasih atas perhatiannya.
Pengirim: Rey (18 tahun, Mahasiswi, Pontianak) Read more »
Saya sudah beberapa kali mengisi bulletin internal kantor dengan artikel khusus tentang peternakan ayam. Bahasa yang digunakan di bulletin itu adalah bahasa baku, seperti menulis tesis atau skripsi. Kemudian saya mencoba menulis artikel untuk saya kirimkan ke redaksi majalah peternakan terkemuka. Sudah 2 kali saya kirimkan artikel saya,namun tidak juga dimuat. Ketika saya tanyakan hal itu, mereka menjawab belum pas dengan topik. Padahal tulisan saya adalah topik yang umum. Saya berfikir apa mungkin karena bahasa yang saya gunakan dalam artikel untuk majalah ini sama dengan bahasa di bulletin, yaitu bahasa baku seperti pada tesis/skripsi. Yang ingin saya konsultasikan, bagaimana membuat suatu tulisan ’serius’ yang dapat diterima oleh dunia jurnalistik (dengan bahasa yang lebih ngepop)? Terima kasih.
Pengirim: Rinie (27 tahun, Karyawati, Jakarta).
Pertanyaan senada oleh Utari (34 tahun, Pekerja Lepas, Depok) Read more »
Salam. Saya ingin menanyakan bagaimana supaya tulisan kita fokus dan tidak keluar dari jalur. Yang kedua, tulisan yang baik dan bagus itu seperti apa sih? Soalnya saya merasa bahwa tulisan yang bagus itu adalah tulisan yang menguraikan masalah panjang lebar. Tapi kata teman-teman penulis, kalau tulisan seperti itu terlalu bertele-tele dan gemuk. Menurut Jonru gimana? Terima kasih.
Pengirim: Ira (22 tahun, Mahasiswi, Ciputat)
Pertanyaan senada oleh Amri (29 tahun, Pekerja Lepas, Jayapura) Read more »
Aku punya banyak ide untuk dijadikan sebuah buku. Masalahnya, saya terkendala oleh setting tempat kejadian cerita dalam penulisannya saat ini. Alasannya, jika aku menulis dan mengharuskan ada nama kota tempat cerita itu berlangsung, ide yang tadinya menggebu-gebu malah menjadi mandek gara-gara membayangkan lokasi kejadian cerita. Padahal semua ceritanya sebenarnya sangat menarik dan pure. Tetapi yach…itulah masalah setting kota atau lokasi ceritanya.
Tetapi jika aku membuat sendiri jagad raya untuk kotanya misal kota Aden yang sama sekali tak ada di belahan dunia manapun, malah gua lancar nulisnya. Haruskah tempat setting kota kejadian dalam cerita berupa nama kota yang benar-benar ada bukan khayalan?
Pengirim: Arman (24 tahun, Mahasiswa, Makassar) Read more »
Dulu sempat 3 kali naskah (opini) saya dimuat dalam salah satu harian kota, tapi lama kelamaan kok tidak. Kira-kira kenapa ya Sir? Bagaimana caranya agar menjadi seorang penulis permanen pada sebuah media masa? Thank you, salam hangat dari Surabaya.
Pengirim: Arie (40 tahun, Surabaya) Read more »
Assalamu’alaikum, Pak Jonru. Sebenarnya mana yang bagus, memakai nama pena atau nama asli? Karena terus terang nama asli saya kurang pas (menurut saya) untuk tulisan, jadi saya berinisiatif menggunakan nama pena “Annora Hara”. Sebenarnya urgensi nama pena apa ya Pak? Karena banyak saya lihat penulis terkenal menggunakan nama pena. Terus terang saya ingin menggunakan nama asli saja; Evyta Andriani Ritonga. Tapi beberapa kali saya coba kirim karya, masuk ke koran lokal kota. Cuma atas saran teman saya seorang penulis, dia sarankan saya pakai nama pena saja. Bagaimana menurut Pak Jonru?
Pengirim: Evy (24 tahun, Wirausahawati, Medan) Read more »
Assalamu’alaikum Wr. Wb. Ada teman saya yang mudah sekali menulis/mengungkapkan apa yang dia lihat atau rasakan. Namun tidak semudah itu terjadi pada saya. Apakah yang dimiliki teman saya itu memang bakat atau kita bisa melatihnya sendiri? Kalau bisa, mohon tips yang efektif + efisien. Jazaakumullahu khairan katsiraa….
Pengirim: Sanah (17 tahun, Pelajar, Banjarmasin) Read more »
Saya ingin memulai untuk membuat suatu tulisan yang bisa dinikmati banyak orang. Kendala yang saya rasakan saat ini adalah saya tidak punya media tulis komputer atau laptop. Saya hanya bermodalkan kertas dan pulpen. Memang hal ini seharusnya tidak menjadi alasan bagi saya untuk tidak menulis. Akan tetapi jika dirasakan lagi, hal ini sangat tidak efisien karena kita harus melakukan pekerjaan dua kali; menulis di kertas dan memindahkannya ke komputer.
Apa saran Anda? Kalaupun saya harus membeli komputer, saya tidak memiliki dana yang cukup. Paling saya hanya bisa mengusahakan dana sekitar 3-jutaan, misal saya hanya membeli PC. Bagaimana? Apakah itu sudah cukup untuk dijadikan media penulisan saya?
Thanks buat jawabannya.
Pengirim: Arum (19 tahun, Mahasiswi, Bogor) Read more »