Cara Membangun Karakter Tokoh

Karakterisasi merupakan salah satu unsur dalam membangun sebuah karya fiksi, baik itu cerpen atau novel. Pembuatan karakter tokoh yang baik akan menjadi salah satu penentu kualitas dari karya fiksi tersebut.

Bagaimana membangun karakter tokoh cerita yang baik? Berikut adalah beberapa di antaranya.

Melalui ucapan-ucapan si tokoh

Orang yang sopan tentu berbeda cara ngomongnya dengan orang yang bengal. Orang pemarah tentu beda cara ngomongnya dengan orang yang penyabar. Pedagang tentu beda cara bicaranya dengan pegawai swasta. Orang Medan punya logat dan dan istilah-istilah yang berbeda dengan orang Solo. Demikian seterusnya. Penulis yang baik harus bisa menampilkan ucapan atau dialog yang benar-benar sesuai dengan sifat, profesi, golongan, etnis, tempat tinggal, dan sebagainya, dari si tokoh tersebut.

Prima Rusdi, penulis skenario ternama, pernah berkata, “Jika pada sebuah cerita, si tokoh protagonis dan antagonis memiliki cara bicara yang sama, berarti ada yang salah dengan skenario film tersebut.”

Memang, Prima mengatakan hal itu dalam konteks skenario film dan sinetron. Namun tentu masih relevan dengan pembicaraan mengenai karakter tokoh di dalam cerpen/novel. Sebisa mungkin, ciptakanlah cara bicara yang berbeda-beda antara satu tokoh dengan tokoh yang lain. Sebagai bahan belajar, amatilah tokoh-tokoh pada sinetron Bajaj Bajuri. Semuanya sangat khas, bukan?

Melalui pemberian nama

Dalam kehidupan nyata, nama seseorang memang tidak identik dengan sifat dan perilakunya. Tapi pada dunia fiksi, kita bisa memberikan nama-nama tertentu untuk membangun karakter yang berbeda-beda. Misalnya, nama Dewi cenderung berkesan anggun dan keibuan. Sedangkan nama Susan cenderung berkesan centil dan genit.

Pemberian nama juga hendaknya disesuaikan dengan setting cerita dan karakter etnis dari tokoh tersebut. Misalnya, aneh rasanya jika kita menceritakan seorang tokoh yang beragama Kristen, tapi dia bernama Abdullah. Atau, kita menceritakan seorang tokoh yang ber-etnis sunda, sejak lahir hingga dewasa tinggal di Sukabumi, tapi dia bernama Michael. Kalaupun kita harus memberikan nama seperti itu, hendaknya ada bagian tertentu pada cerita kita yang berisi penjelasannya secara logis.

Melalui diskripsi yang disampaikan oleh si penulis

Ini adalah cara yang cukup umum dan gampang. Si penulis cukup bercerita – lewat narasi – mengenai karakter si tokoh. Misalnya, “Wina adalah gadis yang amat penyabar, ia selalu memulai ucapannya dengan senyuman.”

Melalui pendapat tokoh-tokoh lain

Contoh:
Nia berkata, “Joko itu pelit banget deh. Masa udah ketahuan di dompetnya banyak duit, dia masih bela-belian ngaku lagi bokek!”

Melalui sikap atau reaksi si tokoh terhadap kejadian tertentu

Contoh:
Ketika seorang anak memecahkan gelas, apa yang dilakukan ibunya? Dalam hal ini, kita harus merumuskan dulu, bagaimana karakter si ibu. Apakah dia pemarah, penyabar, suka mencaci-maki, dan sebagainya.

Jika yang kita ceritakan adalah seorang ibu yang penyabar dan penuh pengertian, kita tentu tidak akan menampilkan dirinya yang marah dan memaki-maki hanya karena anaknya memecahkan gelas. Demikian seterusnya. Intinya, reaksi seorang tokoh terhadap sebuah kejadian haruslah sesuai dengan karakternya.

* * *

Masih banyak cara lain yang bisa digunakan untuk membangun karakter tokoh. Namun cara-cara di atas adalah yang paling umum.

Untuk membangun karakter yang seunik mungkin, tak ada salahnya jika kita memperkuat karakter seorang tokoh dengan “menempeli” dirinya dengan hal-hal unik. Pada novelet saya yang berjudul Seputih Tirai Cinta (pernah dimuat sebagai cerita bersambung di majalah Anita Cemerlang), saya menampilkan seorang tokoh bernama Jason yang selalu menggunakan kata “kok” dalam ucapan-ucapannya. Coba simak kutipan berikut:

Jason nyengir. “Enggak juga, kok. Banyak juga cewek cakep yang enggak jual mahal, kok. Contohnya si Susi, kok.”Gege ngerasa geli dengerin cara ngomong Jason yang enggak pernah lupa pake ‘kok’. “Iya, tapi kalo elu ngomong, ‘kok’-nya enggak usah dibawa terus. Entar kececer, tau rasa lu!”

“Biarin, kok. Elu mau apa, kok?” Jason jadi sewot karena kebiasaan lamanya mendapat kritikan.

* * *

Untuk memotivasi kita agar bisa membangun karakter tokoh yang benar-benar kuat, cobalah belajar dari para penulis skenario yang berhasil. Film Friends misalnya, yang populer di televisi swasta kita beberapa tahun lalu, skenarionya ditangani oleh banyak penulis. Satu tokoh digarap secara khusus oleh satu penulis. Dengan cara ini, setiap tokoh memiliki karakter yang sangat kuat.

Fakta yang tak kalah menarik adalah pada film Ada Apa Dengan Cinta. Sebelum skenario film ini digarap, para pembuat ceritanya terlebih dahulu menulis “buku pedoman” mengenai setiap tokoh, mulai dari sifat-sifatnya, kisah masa kecilnya, hobi mereka, dan seterusnya. Satu tokoh ditulis dalam satu buku. Dan setiap buku ini akan terlihat seperti novel karena sangat tebal. Jadi, dapat kita bayangkan betapa seriusnya para pembuat film ini dalam membangun karakter setiap tokoh. Dan perlu dicatat, buku pedoman yang setebal novel itu bukanlah bagian dari skenario. Ia hanya dipakai sebagai referensi dalam penulisan skenario.

Jadi, kini kita tahu bahwa karakter merupakan bagian yang sangat penting dalam sebuah cerita fiksi. Karakter yang kuat akan membuat pembaca seolah-olah berhadapan dengan tokoh yang nyata, dan ini tentu membuat mereka jatuh cinta pada cerita buatan kita.

* * *

Setiap penulis biasanya punya kiat yang berbeda-beda di dalam membangun karakter tokoh. Arul Khan, penulis yang sekaligus sahabat saya, mengatakan bahwa ia lebih suka menampilkan tokoh yang karakternya diambil dari teman-teman terdekatnya. “Dengan cara seperti ini, saya akan lebih mudah dalam menggambarkan sifat, kebiasaan, dan perilaku mereka,” ujarnya. Pada serial Gang Butu 13 yang dia tulis, tokoh-tokoh yang Arul tampilkan adalah para anggota Forum Lingkar Pena (FLP) Jakarta.

Sebelum Arul, kiat seperti ini sebenarnya telah diterapkan oleh Hilman dalam karyanya yang sangat populer; Lupus. Di serial ini, kita akan bertemu dengan tokoh-tokoh seperti Boim, Gusur dan Anto. Ketiganya adalah nama-nama sahabat terdekat Hilman sendiri. Bahkan secara umum, tokoh Lupus sebenarnya adalah si Hilman sendiri.

Saya pribadi, cenderung tidak sama dengan Arul dan Hilman. Saya memang suka membangun karakter yang diambil dari orang-orang yang saya kenal. Tapi saya tidak mengambil karakter mereka secara utuh. Saya hanya “mengutip” sebagian kecil dari sifat mereka, lalu sisanya saya kembangkan sendiri.

Selain itu, saya juga sering membangun karakter yang hanya berdasarkan imajinasi. Mereka bukan diangkat dari seorang tokoh riil. Biasanya, karakter tokoh akan terbentuk dengan sendirinya, seiring aliran alur cerita. Jadi tak perlu kita rekayasa sejak awal (teknik seperti ini sangat disukai oleh penulis produktif Fahri Asiza).

* * *

Ketika naskah telah selesai ditulis, biasanya saya menyempatkan diri untuk melakukan koreksi khusus terhadap karakter setiap tokoh. Saya akan meneliti, apakah ucapan-ucapan yang saya tulis telah sesuai dengan karakter mereka, dan seterusnya. Jika ada yang tidak sinkron, saya akan merevisinya. Dengan cara seperti ini, saya berharap setiap tokoh akan memiliki karakter yang kuat dan unik.

* * *

CATATAN:

Jangan merusak karakter tokoh dengan hal-hal yang kontradiktif. Misalnya: Anda menampilkan tokoh Ali yang penyabar dan selalu santun dalam bicara. Namun dalam sebuah bagian cerita, Anda membuat kalimat seperti ini:

Ali sangat terkejut mendengar cerita Hasan. Dadanya bergemuruh, mukanya merah, dan ia menatap Hasan penuh kebencian. “Bajingan loe!” teriaknya dengan kasar.

Memang, kadang-kadang manusia bisa melakukan sesuatu yang seolah-olah tidak sejalan dengan karakter aslinya. Jika ini terjadi, kita sebaiknya memberi penjelasan yang gamblang, agar pembaca tidak bingung. Misalnya, “Ali marah besar karena ia sudah kehilangan batas kesabaran. Lagipula hari itu dia sedang stres berat.”

Seorang teman pernah bertanya, “Jadi, apa boleh kalau saya membuat tokoh yang karakternya suka berubah-ubah? Hari ini dia penyabar, besok pemarah, dan seterusnya. Boleh?”

Jika karakter si tokoh memang seperti itu, ya memang itulah yang harus kita tampilkan. Kita tentu paham bahwa banyak juga manusia yang punya karakter yang sangat aneh dan sulit diterima oleh akal sehat.

Penulis = aktor

Ini adalah rumus terpenting dalam membangun karakter tokoh. Saya sering membaca karya penulis dengan karakter tokoh yang bermasalah seperti contoh berikut:

Seorang pemuda yang jauh dari agama. Tapi dari ucapan-ucapan dia, justru muncul kesan bahwa dia sangat paham soal agama. Setelah diselidiki, ternyata si penulisnya adalah seorang guru ngaji. Tanpa sadar, si penulis “memasukkan dirinya sendiri” ke dalam tokoh pemuda tersebut.

Kalau Anda ingin berhasil dalam membangun karakter tokoh, bersikaplah seperti aktor film atau sinetron. Anjasmara sangat berhasil ketika memerankan tokoh Cecep. Deddy Mizwar berhasil dalam memerankan tokoh Nagabonar. Kedua aktor ini berhasil menjadi seseorang yang jauh berbeda dari karakter asli mereka.

Nah, penulis pun seharusnya seperti itu. Ketika Anda menampilkan karakter seorang bajingan, cobalah bayangkan seandainya Anda sendiri si bajingan tersebut. Coba resapi bagaimana pola pikir dan perilaku para bajingan. Coba resapi bagaimana perasaan mereka. Anda mungkin adalah seorang manusia yang sangat berhati mulia. Tapi ketika menulis karakter seorang tokoh bajingan, lupakanlah diri Anda sendiri. Menulislah seolah-olah Anda seorang bajingan.

Selamat mencoba, ya….

Jonru

4 Responses to “Cara Membangun Karakter Tokoh”

  1. BelajarMenulis.com » Cerpen: Cinta dan Episode Bintang-Bintang Says:

    [...] Tentang kiat membangun karakter tokoh, coba baca di sini dan di sini. [...]

  2. daengrusle.com » Blog Archive » Belajar Menulis, Belajar Menjadi Abadi Says:

    [...] dengan baik. Mulai dari tips menulis non-fiksi, kiat menggali dan mengembangkan ide tulisan, membangun karakter tokoh dalam cerita fiksi, hingga bagaimana sebaiknya format dan gaya penulisan yang baik itu. Bahkan dalam situs ini ada [...]

  3. YDN Says:

    Wah, bagus banget sharing nya…
    Baru tahu, ternyata bukan jalan cerita suatu tulisan aja yang penting. Jadi membangun karakter dari tokoh - tokoh akan sangat mempengaruhi suatu cerita ..ya…hmmm..tengkiyu berat…

  4. daydo Says:

    hallo…

    saya sedang mencari penulis cerita untuk anak-anak. Apabila ada yg berminat bisa langsung hubungi saya di 021-9330-3109.

    thanks
    Daydo-bdi

Leave a Reply